?

Log in

No account? Create an account

Birthday fic♡

Title: Happy Birthday
Pairing: Matsuo Takashi x Murata Yuki
Fandom: Choutokkyuu
Genre: Shounen ai, Romance, Fluff, i guess?
Rating: Aman(?)

"Takashi, kita akan kemana?" tanya Yuki sambil mengenakan sepatunya bersiap untuk meninggalkan genkan rumah Koichi.
"Ikuti saja, temani aku." ujar Takashi.
"Hn?" Yuki yang bingung hanya mengangkat kedua alisnya sembari mendekati Takashi.
Semua member Choutokkyuu baru saja selesai berkumpul merayakan ulang tahun Yuki di rumah Koichi. Kejutan ulang tahun Yuki berjalan lancar, dilanjut dengan Yuki yang sukses menjadi korban keenam teman temannya yang menodai wajahnya dengan krim cake yang dibeli oleh Koichi dan Takuya. Setelah perayaan ulang tahun tersebut selesai dengan diakhiri makan soba bersama sama, Takashi mengajak lelaki yang baru bertambah umur menjadi 20 tahun itu untuk pergi keluar sekedar untuk menemaninya jalan jalan.

Langit sudah mulai berubah oranye, cahaya matahari kini sudah mulai memudar. Udara sudah mulai semakin mendingin, namun Yuki tidak bisa menolak ajakan Takashi meskipun ia masih tidak tahu akan dibawa kemana. Apa mungkin minimarket? Ia berpikir begitu karena Yusuke dan Kai sedari tadi mengomeli Koichi yang lupa membelikan snack kesukaan mereka berdua padahal mereka sudah minta untuk dibelikan sebelumnya.

"Heee... jangan jangan kita akan ke minimarket?" tanya Yuki sambil berjalan disamping Takashi.
"Maa.... Tebakanmu meleset.." ujar Takashi.
"Kau ini mengajakku keluar tapi tidak mau memberitahuku mau kemana.." Yuki mengembungkan sebelah pipinya.
Takashi tertawa kecil. "Mau kemana itu bukan masalahnya," Ia mengalihkan pandangannya. "ano sa, hanya saja rasanya sudah lama kita tidak...... berdua saja..." katanya malu malu sambil meraih tangan Yuki dan mengeratkan jari jemarinya dengan miliknya.
Yuki terdiam sejenak sambil perlahan menatap wajah Takashi. Namun kemudian ia tersenyum sambil ikut mengeratkan genggaman Takashi. " Hmmmm~ Takashi yang malu malu, kawaii~"
"Urusai.." balas Takashi sambil ikut tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang tidak terlihat seperti umur 20 tahun itu.
"Ah!" ucap Yuki tiba tiba. "Doushita?"
"Ne~ Jangan jangan kau mau memberiku hadiah?" Yuki sedikit melompat saking kegirangannya. "Tidak usah disembunyikan, aku tahu kau mau memberiku sesuatu kan~?" tanyanya dengan nada manja yang membuat Takashi gemas tentunya.
"Hmm... Dou kana..?" jawab Takashi yang malah menggoda kekasihnya itu.

Begitu sesampainya di depan sebuah taman yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Koichi, Takashi menghentikan langkahnya. Taman yang tidak asing lagi bagi mereka.
"Aaah.. Sudah lama ya kita tidak kesini.." kata Yuki sambil berlari kecil mendekati lapangan yang berada di taman tersebut.
"Sudah berapa lama ya? Setahun?"
"Chotto, tidak mungkin setahun juga kan. Itu terlalu lama tahu.." kata Takashi sambil berjalan mengikuti Yuki.
"Hehe.. Aku tahu kok, aku hanya bercanda." Yuki tersenyum sampai memperlihatkan gigi-giginya. "Dulu tempat ini sering sekali kita bertujuh kunjungi, aku senang bisa kembali."
Yuki berhenti tepat ditengah taman dan Takashi pun mendekatinya hingga berdiri tepat di hadapannya. "Yokatta ne." ucap Takashi singkat sambil menggenggam kedua tangan mungil milik Yuki.
"Tapi yang berbeda, dulu kita tidak pernah kesini sewaktu musim dingin." kata Yuki.
Sesaat keduanya terdiam. Tangan mereka saling menggenggam menghangatkan satu sama lain dan mereka hanya saling menatap tanpa mengucapkan apa apa untuk beberapa saat.
"Gomen ne.." kata Takashi memecahkan suasana.
"Besok pagi aku sudah harus kembali ke Osaka." Tangannya mengelus pipi Yuki yang mendingin.
Yuki masih terdiam, raut wajah sedih dapat Takashi lihat di wajahnya.
"Sou? Sayang sekali...."
"Gomen ne.."
"Aku masih ingin bersamamu padahal.." Yuki menatap kedua tangan mereka yang saling berpegangan erat.
"Jadi... untuk apa kau membawaku ke sini?" kata Yuki lagi.
"Ah, iya. Tutup matamu."
"Eh?"
"Tutup matamu."
" Hmm... Yappari, tebakanku benar bukan?" Yuki pun menutup kedua matanya.
"Sebentar ya.."
"Ah!" Tiba tiba ia kembali membuka matanya.
" Kalau kau ternyata menyuruhku menutup mata dan ternyata kau hanya menghadiahkanku ciuman seperti tahun lalu, aku tidak akan memaafkanmu!" Takashi cukup kaget mendengarnya. Pernyataan Yuki tersebut mengingatkannya akan ingatan tahun lalu disaat ia lupa membeli kado untuk Yuki. Takashi yang saat itu tidak sempat membeli kado hanya mencium Yuki sebagai penggantinya.
"He? Lalu siapa yang besoknya menangis terharu menelponku ketika menemukan boneka Little Green Men besar di depan pintu apartemenmu?" balas Takashi sewot.
Yuki tertawa dan mengangkat tangannya. "Hai, gomen ne." ucapnya diikuti tawa Takashi.
"Ii kara, tutup matamu."
"Hai, hai.."
Kemudian Takashi merogoh saku mantelnya untuk mengambil sebuah kotak kecil. Yuki yang masih menutup matanya tiba tiba merasakan kedua tangan Takashi sedang memakaikan sesuatu di lehernya. Setelah tampaknya selesai, Yuki membuka kedua matanya setelah diberi aba aba untuk membuka mata oleh Takashi.
Kedua mata Yuki melebar begitu melihat sebuah kalung perak di lehernya. Sebuah kalung berbentuk kunci yang di batang kunci tersebut terdapat ukiran kanji 祐(YU) X 太(TA) diatasnya.
"Takashi..... Ini--"
Belum sempat menyelesaikan perkataanya, tiba tiba tanpa Yuki sadari bibir mereka sudah saling bertemu. Takashi menghentikan perkataan Yuki dengan menciumnya. Yuki yang cukup terkejut perlahan menutup matanya dan membalas ciuman yang Takashi berikan padanya. Sudah lama ia tidak merasakan betapa lembutnya bibir Takashi beradu dengan bibirnya. Setelah beberapa detik lamanya, Takashi melepaskan ciumannya ketika keduanya sudah mulai kehabisan nafas. Wajah mereka begitu dekat, nafas mereka saling memburu. Pipi Yuki memerah menyadari Takashi baru saja menciumnya.
"Otanjoubi omedetou, Yuki." kata Takashi menatap kedua mata Yuki.
Terlihat senyuman manis menghiasi wajah Yuki. Perlahan Yuki mendekatkan kembali wajahnya dan mengecup pipi Takashi. "Arigatou, daisuki dayo." bisik Yuki di telinga Takashi.
"Ini indah sekali, aku akan menyimpannya baik baik."
Keduanya tersenyum dan kemudian diikuti tawa. Yuki merasa sangat beruntung memiliki Takashi, begitupun sebaliknya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Ini fic sumpah seadanya banget #plak
Happy Birthday Yuki!! Happy hatachi♥ Aku tahu ini telat dan ultah Yuki udah lewat, tapi setidaknya biarkan aku ngepost fic gagal ini _(:'3ゝ∠)_ #abaikan

EBiDAN THE LIVE Summer Party~

Domooo~ ( ´ ▽ ` )ノ

Actually it's my first time i'm gonna sharing something in my journal.
In fifth's July there was another EBiDAN LIVE, and i've found something in my twitter timeline about their reherseal video
that makes me sooo curious about it lately (o´ω`o) and then i found it in a site that we have to pay if we wan't to watch it ;~;
I'm so curious because there is something different in Ebilive this time, they make shuffle units!! XD

CustomiZ >> CustomiV
member: Takashi, Yuki, Kai and Tim
BryBL_YCUAEB29o


Choutokkyuu >> Shindaitokkyuu
member: Hama, Takumi, Masaki, Win, Yuuki and Tsubasa
BryAlPVCEAAfbVA


DISH// >> DASH@@
member: Yusuke, Goro, Daichi and Daiki
BryAwMWCEAAGYr1


PrizmaX >> PleasemaX
member: To-i, Ryuji, Takuya, Ryoga and Koichi
BryBFwOCEAA-QlF

I'm so excited when i know Takashi and Yuki in the same group, CustomiV, and they're perform CustomiZ's "Hare Hare Yuukai" LOL
Takashi looks so fabulous in Hama's costum plus Hama's sunglasses and i looove seeing Yuki wearing a glasses (ノ≧∀≦)ノ *biased*
I've read some repo that when CustomiV performing, when the reff's comes, suddenly this adorable dojikko doing headbang until his glasses flying(?) and he's doing it not only once! lololol I love this idiot (~ ̄▽ ̄)~

Ah, btw here's the backstage reherseal video, it's not HQ but at least we can still seeing them clearly =))



Download it here (❀◦‿◦)

cr: chotokkyu@tudou

Takashi x Yuki Drabble

Yuta Drabble part 1(?)
Pairing: Matsuo Takashi x Murata Yuki
Genre: Romance, Shounen ai
Rating: PG-15

      


        Takashi terbangun. Ia menyadari ternyata perjalanan belum sampai. Disebelahnya terlelap sesosok Yuki yang tidur dengan pulasnya. Kepalanya terayun kesana kemari mengikuti gerakan bus ini berjalan.
        Takashi menatapnya, "Kau pasti lelah ya.." ucapnya cukup pelan.
        Perlahan, Takashi mengulurkan tangannya meraih kepala Yuki yang tertunduk menuntunnya untuk bersandar pada pundaknya sampai ia dapat merasakan lembutnya rambut Yuki di pipinya. Ia mengusap wajah tertidur Yuki sambil tetap menatap wajahnya.

"Kirei na.."

--------------------------------------

       "Minna! Hayaku!!" ucap Kai dengan semangatnya sambil menunjuk-nunjuk bianglala yang begitu besar berdiri didepan mereka. Yuki berjalan perlahan sambil menatap kagum pada bianglala yang begitu indah bersinar dengan terangnya di malam hari.
        "Ah, chotto kita ada berlima, apa sebaiknya dibagi dua?" tanya Yusuke pada yang lainnya.
        "2-3? Baiklah.. " kata Takuya.
       "Kalau begitu aku, Yuki, dan Takashi akan bertiga~" ucap Yusuke yang langsung membuat keputusan.
          Yuki yang mendengar hal itu sedikit kecewa. Tapi apa boleh buat, toh, ia masih bisa bersama Takashi. Kalaupun ia meminta, ia takut ketahuan dengan Takuya dan Yusuke bahwa ia dan Takashi pacaran, lagi pula hanya Kai yang mengetahui hal ini. Ketika Kai menyadari raut wajah Yuki berubah, ia langsung menimpali Yusuke, "Yusuke! eetto... Ah iya! Aku ingin minta foto yang tadi kita ambil dari ponselmu. Makannya kau bersama aku dan Takuya!"
         "Eh~ Nande..."
        "Sudah ikuti saja!" ucap Kai dengan nada sedikit memaksa. Sesaat Takashi melirik Kai yang tengah sibuk membujuk Yusuke.
        'Arigatou ne' ucap Takashi tanpa suara. 'Sudah, cepat sana' balas Kai sambil memberi kode untuk segera pergi dengan Yuki.
"Ayo, Yuki" Takashi menarik tangan Yuki menuju pintu masuk wahana tersebut.

--------------------------------------

      "Nee, Yuki.." ucap seorang pria yg berdiri dihadapannya pelan. "Mm?"
        "Yuki, Samui? " tanya pria tersebut. Terlihat tangan milik seorang bernama Yuki itu bergetar menandakan begitu dinginnya saat itu.
        "Ayo mendekatlah.." pria dihadapannya seketika menarik kedua lengan bergetar tersebut membawanya hingga menempelkannya ke kedua pipinya yang hangat. "Ta-Takashi..?" wajah Yuki merona, menyadari jarak muka pria dihadapannya hanya beberapa centi dari batang hidungnya. Ia dapat merasakan hembusan nafas hangat menerpa wajahnya yang memerah.
       "Yappa, samui na.." dipegangnya erat kedua tangan Yuki yang beradu di kedua pipinya. Perlahan, ia melepaskan syal tebal yang ia kenakan dan melilitkannya sebagian diantara leher dingin Yuki, sehingga keduanya saling terhubung satu sama lain.
       "Tenang saja, aku akan membuatmu hangat." kedua mata Yuki melebar. Dahi mereka saling bersentuhan, nafas mereka saling beradu, tidak ada jarak lagi diantara mereka. Yuki terdiam tak berani menatap pria bernama Takashi itu. Ia menutup kedua matanya. Ia hanya bisa menikmati kehangatan yang diberikan dari pria yang ia cintai itu.

Yuki terbangun.
     
       'Mimpi?' tanyanya dalam hati. Setitik air mata terasa diujung matanya, mengalir perlahan menuju pipinya. 'Ah.. Apa yang aku mimpikan barusan? Hnn? Air mata?' Yuki mengusap air matanya yang mengalir tak henti dari kedua matanya.

Mimpi itu membangkitkan rasa rindunya.

        'Kenapa aku menangis?'

--------------------------------------

        Setelah live dihari itu, Yuki menemukan sesosok Takashi tertidur pulas di atas sofa di ruang ganti.
        "Takashi? Kau tidur?" Yang ditanya tak menjawab.
        Yuki  mendekati sosok bertubuh besar itu, duduk tepat disebelahnya. Baru kali ini ia melihat kekasihnya tidur sepulas ini. Yuki membelai rambut halus Takashi, tangannya menyeka poninya yg menutupi sebagian wajahnya.
        Yuki menatap wajah Takashi cukup lama, wajahnya yang tertidur sungguh terlihat tak berdosa. Perlahan Yuki mengelus rambut Takashi lembut. Ia sangat menyukai sosok Takashi yang seperti ini, sisi yang jarang ia perlihatkan. Begitu bersih dan polos seperti seorang anak kecil, membuatnya ingin memeluknya. Tapi bagaimana pun juga Takashi lebih muda darinya, meskipun tidak terlihat secara fisik.
        Lama kelamaan menatapnya entah kenapa membuat Yuki gemas, ia tak tahan ingin memeluknya. Namun rasanya ia akan bersalah jika ia sampai membangunkannya.
        "Yuki..." Terdengar namanya dipanggil perlahan oleh sosok yg sedang dikaguminya itu.
       "Eh?" Yuki tertawa kecil, "Hmm.. Kau mengigau ya.."
        Tanpa ia sadari, tangan kanan Takashi sudah menggenggam erat jemari Yuki. Hal tersebut membuat Yuki menebak nebak dalam pikirannya; apa yang sedang dimimpikan oleh pria yang di hadapannya itu? Apa ia sedang memimpikannya?
        Yuki tersenyum manis, kedua matanya tetap tak lepas dari Takashi. Perlahan, Yuki mendekatkan wajahnya. Nafas lembut Takashi dapat ia rasakan mengenai wajahnya. Sesaat, Yuki mempertemukan bibir mereka, mengecupnya, sangat lembut. Sebentar kemudian Yuki melepaskan ciumannya. Ia tetap tak ingin membangunkannya.
     
"Yuki.. suki... da.. yo..."

       Takashi masih mengigau, seakan memberi kata kata balasan untuk ciumannya. "Ore mo.." ucap Yuki pelan sambil tetap tersenyum.
Kemudian ia melepaskan genggaman Takashi dan beranjak mengambil selimut kecil dipinggir sofa. "Tidurlah yang nyenyak. Oyasumi.." Yuki menyelimuti Takashi dan mengelus rambutnya sekali lagi sebelum ia pergi meninggalkan Takashi.

--------------------------------------

        Perasaan Takashi berkecamuk begitu ia mendapat e-mail singkat dari Yusuke;

"Takashi! Yuki tidak ada di kamarnya. "

       Pesan itu membuat Takashi panas dingin. Dengan cepat ia menekan nomor kontak Yusuke, menelponnya. Yusuke berkata bahwa disana orang orang tengah sibuk mencari Yuki. Mereka tidak bisa menemukannya dimana pun.
        "Baiklah, aku akan segera kesana!" Takashi memutus sambungan dan segera berlari keluar dari stasiun menuju rumah sakit.

Sial..

Yuki, nande...

        Takashi berlari sekuat tenaga tak peduli seberapa jauhnya jarak dari stasiun menuju rumah sakit. Perasaannya bercampur aduk, dan sungguh, ia sangat khawatir mengingat kondisi Yuki saat ini.
     
        Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menuju kamar Yuki, berharap Yuki sudah duduk manis di ranjangnya. Namun sayang, yang ia temukan hanya kamar kosong dan Yusuke yang sedang duduk menunggu kedatangan Takashi.
        "Bagaimana? Yuki sudah ketemu?" ucap Takashi tergesa-gesa sambil mengatur nafasnya.
        "Belum, beberapa suster masih sedang mencarinya.. Aah doushiyou.." kata Yusuke.
        "Bagaimana dengan ibunya?"
        "Obaasan sedang kembali dulu ke rumahnya untuk mengambil keperluan. Aku sudah mengontaknya."
        Yuki meninggalkan ponselnya di ranjang. Bahkan ia tidak menggunakan kursi roda. Takashi tak bisa membayangkan bagaimana kondisinya sekarang. Takashi segera berlari mencari Yuki ke seluruh penjuru rumah sakit. Ia takut menemukan Yuki tergeletak di suatu tempat ataupun di luar gedung, mengingat cuaca dingin di luar sana. Ia sampai tidak menghimbau peringatan berkali kali yang diucapkan oleh para suster ataupun dokter untuk tidak berlari di dalam gedung.

Yuki...

Dimana kau..?

       Berbagai tempat ia datangi, namun hasilnya sama saja. Ia tidak bisa menemukannya. Takashi sudah hampir menyerah, tapi ia tidak bisa membiarkan begitu saja orang yang dicintainya dalam keadaan seperti ini.
       Ketika ia sampai di atap gedung rumah sakit, ia menemukannya; tengah duduk terkulai lemas di sebuah kursi panjang. Hanya sendiri, diam sambil menatap pemandangan kota. Di udara sedingin ini ia hanya mengenakan piyama rumah sakit yang dibalut jaket tipis. Wajahnya yang pucat tak menampakkan ekspresi apapun. Ditangannya terdapat bercak darah segar, begitupun di sekitar bibirnya.
        Takashi segera berlari menghampirinya. Tanpa berkata apapun ia langsung mendekap Yuki dengan erat, sangat erat, seakan ia tak akan pernah melepaskannya.
        "Apa yang kau lakukan!? Sungguh, kau membuatku khawatir setengah mati.." ucap Takashi yang memeluknya sambil mengusap kepala Yuki. Nada bicaranya sedikit bergetar, seakan ia menahan tangis. "Kau tidak apa apa kan?"
        "Takashi? Kau mencariku?" tanya Yuki begitu pelan.
       ".......Tentu saja. Aku mencarimu kemanapun. Semua orang mencarimu." balas Takashi yang masih menahan tangis. "Syukurlah aku menemukanmu. Aku tidak tahu harus bagaimana jika kau menghilang dan tak pernah kembali."

Yuki tak merespon.

        Takashi melepas pelukannya lalu menatap wajah datar Yuki yang ikut menatapnya. Takashi bisa melihat bekas jejak air mata di kedua pipi Yuki dan perlahan ia mengusapnya. Takashi yang menyadari begitu dinginnya Yuki, segera melepaskan jaketnya dan memakaikan pada tubuhnya sambil berlutut dihadapannya.
        "Pakailah ini. Kau pasti kedinginan."
        Saat memakaikannya, ia dapat merasakan tubuh Yuki semakin mengurus. Kondisinya benar benar semakin parah tiap harinya. Hal ini membuat dada Takashi terasa sakit.
        Pandangan Takashi tiba-tiba teralihkan oleh bercak darah yang cukup banyak di tangan dan bibir Yuki. Kemudian ia mengeluarkan sapu tangan dan mulai membersihkan darah darah tersebut. "lagi-lagi batukmu kambuh ya?"
        "Takashi..."
        "Hmm..?" kata Takashi yang masih menunduk sambil membersihkan tangannya.
        "........Aku takut..."
Takashi mengangkat kepalanya.
        "....apa aku bisa bertahan lama?"
        Suaranya begitu kecil dan rapuh hampir tak terdengar. Raut wajahnya berubah terlihat sangat sedih. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
Takashi hanya bisa terdiam tak tahu harus menjawab apa. Tapi bagaimanapun ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya;

Hidup Yuki yang tersisa hanya tinggal dua bulan lagi.

        "Ak-aku.. Aku tak ingin meninggalkanmu..." Yuki mulai menitikkan air mata. Dada Takashi terasa sangat sesak, ia tak tega melihatnya. Sekali lagi ia meraih pundak Yuki dan menariknya hingga ke pelukannya.
        ".....Aku ingin terus berada di sisimu.." ia masih melanjutkan. Yuki menggelamkan wajahnya di pundak Takashi. Air matanya membasahi bajunya. Tangannya menggenggam erat pundak Takashi bahkan sampai mencengkramnya.
        Takashi tak bisa menahan air matanya. Tetes air mata mulai membasahi di kedua pipinya. "Daijoubu dayo. Aku yakin kau akan sehat kembali.." ucap Takashi pelan di telinga Yuki sambil mengeratkan pelukannya.
        ".....dan aku akan selalu di sisimu sampai kapanpun. Aku akan terus melindungimu.."
     
"..karena aku mencintaimu."
Title: Bandage [bahasa]
Author: ayarin
Pairing: Jinguji Yuta X Nakamura Reia
Genre: Fluff, Friendship or Romance?




Sore itu kelas 1-B sepi hanya menyisakan sesosok Nakamura Reia tengah
sibuk mengerjakan laporan pengurus osis untuk hari itu.
Sesaat kemudian Jinguji, teman dekat Reia datang, "Yo, Reia! Sudah selesai?"

" Jin-chan, tunggu sebentar.. Sedikit lagi." ucap Reia tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Hee.. Reia tiap hari sibuk ya.. Padahal kau sudah jadi pengurus kelas, ikut osis pula," komentar Jinguji, sambil mengambil kursi dan duduk dihadapan Reia yang masih sibuk menulis."Kau sibuk osis, sedangkan aku sibuk klub. Aku ingin pulang bersamamu padahal.."

Jinguji dan Reia sudah berteman baik sejak bangku SMP. Meskipun tidak sekelas, mereka tidak bisa dilepaskan. Keakraban mereka melebihi akrabnya mereka denganteman teman sekelas mereka masing masing.

"Maa.. Aku sudah biasa kok. Daripada aku sama sekali tidak aktif, bagus juga kan kalau bisa kenal dengan semua orang."
jawab Reia sembari tersenyum manis menatap teman baiknya itu. "Hari ini kau tidak latihan? Bukannya akan ada pertandingan minggu depan?"

"Tidak, besok baru akan latihan full seharian."

"Sou? Yah, aku harap tim sepakbola kita menang ya~"

"Yosh, akan aku perlihatkan keunggulan tim kita kali ini!" ucap Jinguji yang terlalu semangat sampai sampai ia berdiri dengan bangga.

"Sudah selesai~ Ah, Jin-chan tunggu disini sebentar ya, aku ke ruang guru dulu."
Bergegas, Reia segera membawa tumpukan kertas yang harus ia serahkan kepada pak guru.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba, Reia tersandung sesuatu -yang tentunya tidak ia sadari- dan terjatuh ke lantai, sementara kertas yang ia bawa berserakan dimana-mana.

"Ittaii..."

"Reia! Daujoubu?" ucap Jinguji dengan nada panik, ia segera mendekati Reia yang terduduk di lantai kelas.

"Daijoubu.. Aduh kertas kertasnya berserakan." Reia bangun segera membereskan kertas yang berserakan itu. "Biar kubantu." Jinguji pun ikut memungut kertas kertas tersebut.

"Ah! Ittai.." entah ada apa dengannya hari ini, setelah terjatuh, kini jari Reia terluka akibat tergores ujung kertas yang tajam. Darah segar keluar dari celah luka jari Reia.
"Sini, coba kulihat.." Jinguji menarik lengan Reia untuk melihat lukanya.

"Itai?" "Mm.. chotto.." Sesaat, Jinguji mendekatkan jari Reia yang terluka pada bibirnya.
"J-Jin-chan, apa yang kau--" Jinguji tidak menjawab, ia hanya menatap Reia sekilas dan perlahan ia menghisap darah dari jari Reia yang terluka.

"Jin...chan..?"

Entah kenapa, Reia merasa wajahnya memanas. Rona di kedua pipinya memerah menandakan dirinya gugup begitu juga dengan debaran jantungnya yang berdetak lebih kencang.



Apa yang dia lakukan? Kenapa aku berdebar?



"Nah, sekarang darahnya sudah berhenti." Kini Jinguji tersenyum sambil masih mengamati jari Reia.
"Oya, aku punya plester." Reia masih terdiam, wajahnya masih memerah.
Wajah Jinguji terlalu dekat. Ia bingung harus berkata apa.

Jinguji merogoh saku celananya, ia punya beberapa plester. Sebagai anggota klub olahraga sudah biasa ia terluka, maka ia pun punya banyak plester untuk menutupi luka luka tersebut.

"Selesai~! Reia, masih sakit?" tanya Jinguji setelah ia menutupi luka Reia.
"....a-arigatou." balas Reia sambil menunduk agar Jinguji tidak dapat melihat wajahnya.

"Mm, lain kali hati hati ya.." tangan kanan Jinguji perlahan menepuk nepuk kepala Reia yang masih tertunduk. Menyadari itu Reia terkejut dan secara refleks menatap Jinguji sesaat namun menunduk kembali begitu sadar wajah Jinguji masih begitu dekat.



Ada apa denganku?



"Reia? Doushita no? Wajahmu memerah.." ia menarik dagu Reia.
"U-urusai, nanimonai.. yo" Reia yang masih gugup menepis tangan Jinguji dan segera membereskan kembali kertas kertas yang berserakan tadi.
"Aku ke ruang guru dulu.." Reia berlari tanpa menatap Jinguji sekalipun sambil menutupi wajahnya dengan tumpukan helai kertas yang ia bawa.


Aaah... doushiyou??



a/n: my first fic =='' fail? maa.. sebenernya aku lebih ngeship Reia sama Amu,
tapi entahlah lagi pengen bikin ff mereka :3 yasudahlah yaa *slap*


ah chotto, kemungkinan mau bikin lanjutannya nih.. :D Matte nee~